Program MBG Dinilai Belum Sepenuhnya Memberdayakan UMKM

Program pemerintah yang dikenal sebagai MBG (Makan Bergizi Gratis) diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi berbagai sektor ekonomi, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah pihak menilai bahwa peran UMKM dalam program tersebut masih belum optimal.

Beberapa pengamat ekonomi menilai bahwa peluang UMKM untuk terlibat dalam rantai pasok program ini masih terbatas. Dalam banyak kasus, penyediaan bahan baku maupun pengolahan makanan cenderung melibatkan pelaku usaha skala lebih besar yang telah memiliki kapasitas produksi yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pelaku UMKM berpotensi tersisih dari program pemerintah yang seharusnya juga dapat menjadi peluang peningkatan ekonomi bagi usaha kecil. Padahal, UMKM selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian nasional yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sejumlah pihak mendorong agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap mekanisme pelaksanaan program tersebut. Salah satu usulan yang muncul adalah memberikan ruang lebih besar bagi UMKM lokal untuk berpartisipasi sebagai pemasok bahan makanan, penyedia jasa katering, maupun mitra distribusi.

Dengan keterlibatan yang lebih luas, program pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan sosial, tetapi juga mampu memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Selain meningkatkan pendapatan pelaku usaha kecil, keterlibatan UMKM juga dapat menciptakan efek ekonomi berantai di berbagai daerah.

Jika dirancang secara inklusif, program-program pemerintah seperti MBG berpotensi menjadi sarana pemberdayaan ekonomi rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan sektor UMKM secara berkelanjutan.

Sumber laporan asli: Kompas

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Mahasiswa, Kritik, dan Kepedulian terhadap Masa Depan Bangsa

Jakarta, Juni 2026 – Pada Jumat, 12 Juni 2026,...

Film “Backrooms” Tembus Box Office, Horor Liminal yang Lagi Ramai Dibahas

Film Backrooms tengah menjadi salah satu judul yang paling...

Euforia Piala Dunia 2026 Tetap Membara Meski Tanpa Tim Garuda

Coba perhatikan obrolan di warung kopi, linimasa media sosial,...

ChatGPT vs Gemini vs Claude: Mana AI yang Paling Cocok untuk Kerja?

Dalam dua tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence (AI) berkembang...

Siap Pangkas Kemacetan, Ini Rute dan Progres Pembangunan BRT Bandung Raya

Bandung, Juni 2026 – Kemacetan sudah lama menjadi bagian...

Topik

Mahasiswa, Kritik, dan Kepedulian terhadap Masa Depan Bangsa

Jakarta, Juni 2026 – Pada Jumat, 12 Juni 2026,...

Film “Backrooms” Tembus Box Office, Horor Liminal yang Lagi Ramai Dibahas

Film Backrooms tengah menjadi salah satu judul yang paling...

Euforia Piala Dunia 2026 Tetap Membara Meski Tanpa Tim Garuda

Coba perhatikan obrolan di warung kopi, linimasa media sosial,...

ChatGPT vs Gemini vs Claude: Mana AI yang Paling Cocok untuk Kerja?

Dalam dua tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence (AI) berkembang...

Siap Pangkas Kemacetan, Ini Rute dan Progres Pembangunan BRT Bandung Raya

Bandung, Juni 2026 – Kemacetan sudah lama menjadi bagian...

Padel Naik Daun di Indonesia: Ketika Olahraga, Gaya Hidup, dan Kelas Sosial Bertemu

Padel kini menjadi tren olahraga yang melonjak di kalangan masyarakat urban Indonesia. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, olahraga raket ini berkembang menjadi simbol gaya hidup, identitas sosial, dan ruang interaksi bagi kelas menengah. Dengan karakteristik yang mudah dipelajari dan format permainan ganda, padel menawarkan pengalaman sosial unik yang kini turut diramaikan oleh berbagai brand lokal.

Lebih dari Sekadar Olahraga: Tren Lari Half Marathon dan Strava di Kalangan Generasi Muda

Lari half marathon kini menjadi tren populer di kalangan generasi muda Indonesia karena tantangannya yang realistis bagi pelari rekreasional. Didukung oleh aplikasi Strava sebagai wadah dokumentasi dan komunitas yang solid, olahraga ini bertransformasi menjadi gaya hidup modern. Event besar seperti BTN Jakarta International Marathon mencerminkan pertumbuhan pesat ekosistem lari yang mengutamakan konsistensi serta pencapaian pribadi.

Lebih dari Sekadar Drama Sekolah, “Teach You a Lesson” Menyoroti Tekanan Sosial yang Nyata

Teach You a Lesson di Netflix menghadirkan perspektif mendalam tentang tekanan sosial di lingkungan sekolah. Melalui kisah tim khusus yang menangani konflik remaja, serial ini mengeksplorasi pencarian identitas, dampak media sosial, dan kerinduan akan keadilan. Narasi yang manusiawi menjadikannya refleksi penting tentang dinamika hubungan antarmanusia yang sangat relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang generasi.

Artikel Terkait

Kategori Lainnya

spot_img