
https://www.redbubble.com/i/poster/The-Backrooms-by-Bradychoater/178849148/flk2
Film Backrooms tengah menjadi salah satu judul yang paling banyak diperbincangkan di kalangan penikmat film horor. Berangkat dari fenomena internet yang sudah lama viral, film ini kini berhasil menembus box office dan menarik perhatian penonton global.
Tidak seperti film horor pada umumnya, Backrooms menawarkan pendekatan yang lebih atmosferik dan psikologis. Alih-alih mengandalkan ketegangan instan, film ini membangun rasa tidak nyaman melalui ruang kosong tanpa ujung, pencahayaan redup, dan suasana yang terasa “asing tetapi familiar”.
Sejak perilisannya, film ini tidak hanya ramai dibicarakan karena ceritanya, tetapi juga karena konsepnya yang berasal dari budaya internet yang sudah lebih dulu hidup di berbagai platform digital.
Dari Urban Legend Internet ke Layar Lebar
Backrooms awalnya dikenal sebagai creepypasta—cerita horor buatan komunitas internet yang menggambarkan seseorang terjebak di ruang tak berujung berwarna kuning kusam dengan suasana kantor kosong.
Konsep ini kemudian berkembang luas melalui video found footage di internet, hingga akhirnya diadaptasi menjadi film layar lebar oleh A24.
Versi filmnya memperluas cerita tersebut dengan narasi yang lebih terstruktur, termasuk eksplorasi tentang dimensi misterius dan eksperimen yang berkaitan dengan ruang tersebut.
Transformasi dari konten internet menjadi film bioskop inilah yang membuat Backrooms terasa relevan dengan budaya penonton saat ini.
Horor Liminal yang Mengandalkan Suasana

https://www.rottentomatoes.com/m/backrooms
Daya tarik utama Backrooms terletak pada pendekatannya terhadap horor.
Film ini tidak terlalu bergantung pada jumpscare, melainkan membangun ketegangan lewat konsep “ruang liminal”—yaitu ruang transisi yang terasa kosong, tidak jelas fungsi, dan menciptakan rasa asing.
Koridor panjang tanpa ujung, lampu neon yang konstan, serta ruangan yang berulang menjadi elemen visual utama yang membuat penonton merasa terjebak bersama karakter di dalamnya.
Banyak penonton menyebut pengalaman menonton film ini lebih seperti “merasa tidak nyaman” dibanding sekadar merasa takut.
Tembus Box Office dan Jadi Perbincangan Global

https://wdnsfm.com/full-story/?id=149341&category=hollywoo
Kesuksesan Backrooms tidak hanya terlihat dari respons penonton, tetapi juga dari pencapaiannya di box office.
Film ini berhasil mencatat pembukaan yang kuat secara global, memperlihatkan bahwa konsep horor berbasis internet culture memiliki daya tarik yang besar di pasar mainstream.
Selain itu, diskusi mengenai film ini juga ramai di media sosial. Banyak penonton membahas teori cerita, makna ruang liminal, hingga kemungkinan pengembangan universe yang lebih luas di masa depan.
Hal ini menunjukkan bahwa Backrooms bukan hanya film horor, tetapi juga fenomena budaya digital yang berkembang menjadi tontonan arus utama.
Lebih dari Sekadar Film Horor
Yang membuat Backrooms berbeda dari film horor lainnya adalah bagaimana film ini memanfaatkan estetika internet modern sebagai bagian dari ceritanya.
Konsep “liminal space” yang sebelumnya hanya populer di komunitas online kini menjadi elemen utama dalam film ini. Ruang kosong, suasana sunyi, dan ketidakjelasan arah menciptakan pengalaman visual yang unik bagi penonton.
Pendekatan ini membuat Backrooms tidak hanya sekadar menakutkan, tetapi juga memancing rasa penasaran dan interpretasi yang berbeda-beda dari penonton.
- 0
- 0
- 0
- 0






