Meningkatnya harga emas dalam beberapa waktu terakhir turut mendorong minat masyarakat terhadap instrumen investasi logam mulia. Tren tersebut tercermin dari pertumbuhan jumlah nasabah layanan bullion bank milik Bank Syariah Indonesia yang mengalami peningkatan signifikan pada awal tahun 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah nasabah layanan bullion bank BSI meningkat sekitar 44 persen secara year to date pada periode Januari hingga Februari 2026. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan harga emas yang mencapai sekitar Rp3,1 juta per gram, atau meningkat lebih dari 50 persen dalam setahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat emas kembali dilirik sebagai instrumen investasi yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Banyak investor memilih emas sebagai aset lindung nilai karena dianggap lebih stabil dibandingkan instrumen investasi lain ketika terjadi gejolak ekonomi maupun politik.
Selain pertumbuhan jumlah nasabah, penjualan emas melalui layanan bullion bank juga menunjukkan tren positif. Hingga awal 2026, realisasi penjualan emas telah mencapai lebih dari separuh total penjualan sepanjang tahun sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa permintaan masyarakat terhadap investasi emas masih terus meningkat.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, pihak BSI melakukan berbagai langkah strategis, termasuk memastikan ketersediaan stok emas serta memperkuat kerja sama dengan sejumlah pemasok logam mulia. Di sisi lain, perusahaan juga mendorong edukasi kepada nasabah agar melakukan investasi emas secara bertahap dan berorientasi jangka panjang.
Tren ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi salah satu instrumen investasi favorit masyarakat Indonesia, terutama ketika kondisi ekonomi global mengalami ketidakpastian.
Sumber laporan asli: Kompas





