Penelitian terbaru menunjukkan bahwa wabah besar Black Death tidak hanya disebabkan oleh bakteri, tetapi juga dipicu oleh kombinasi faktor lingkungan, termasuk perubahan iklim.
Para ilmuwan meneliti lapisan es di wilayah kutub, seperti Antartika, untuk melihat kondisi lingkungan sebelum wabah terjadi. Dari situ ditemukan bahwa terjadi perubahan iklim yang cukup ekstrem pada masa tersebut.
Perubahan ini memicu gangguan pada sektor pertanian, seperti gagal panen dan kelaparan. Untuk mengatasi krisis pangan, kota-kota dagang di Italia memperluas jaringan perdagangan hingga ke wilayah lain.
Namun, aktivitas perdagangan tersebut justru membuka jalur penyebaran penyakit. Kapal-kapal yang membawa bahan pangan juga membawa “penumpang tak terlihat”, yaitu kutu yang terinfeksi bakteri penyebab pes, yang kemudian menyebar ke tikus dan manusia di Eropa.
Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai “badai sempurna”, yaitu gabungan faktor iklim, ekonomi, sosial, dan mobilitas manusia yang akhirnya memicu pandemi besar.
Penelitian ini juga memberi peringatan bahwa perubahan iklim di era modern bisa meningkatkan risiko munculnya penyakit baru, terutama di dunia yang semakin terhubung secara global.
Sumber laporan asli: Detik





