Film “Backrooms” Tembus Box Office, Horor Liminal yang Lagi Ramai Dibahas

Film Backrooms tengah menjadi salah satu judul yang paling banyak diperbincangkan di kalangan penikmat film horor. Berangkat dari fenomena internet yang sudah lama viral, film ini kini berhasil menembus box office dan menarik perhatian penonton global.

Tidak seperti film horor pada umumnya, Backrooms menawarkan pendekatan yang lebih atmosferik dan psikologis. Alih-alih mengandalkan ketegangan instan, film ini membangun rasa tidak nyaman melalui ruang kosong tanpa ujung, pencahayaan redup, dan suasana yang terasa “asing tetapi familiar”.

Sejak perilisannya, film ini tidak hanya ramai dibicarakan karena ceritanya, tetapi juga karena konsepnya yang berasal dari budaya internet yang sudah lebih dulu hidup di berbagai platform digital.

Dari Urban Legend Internet ke Layar Lebar

Backrooms awalnya dikenal sebagai creepypasta—cerita horor buatan komunitas internet yang menggambarkan seseorang terjebak di ruang tak berujung berwarna kuning kusam dengan suasana kantor kosong.

Konsep ini kemudian berkembang luas melalui video found footage di internet, hingga akhirnya diadaptasi menjadi film layar lebar oleh A24.

Versi filmnya memperluas cerita tersebut dengan narasi yang lebih terstruktur, termasuk eksplorasi tentang dimensi misterius dan eksperimen yang berkaitan dengan ruang tersebut.

Transformasi dari konten internet menjadi film bioskop inilah yang membuat Backrooms terasa relevan dengan budaya penonton saat ini.

Horor Liminal yang Mengandalkan Suasana

Sumber foto :
https://www.rottentomatoes.com/m/backrooms

Daya tarik utama Backrooms terletak pada pendekatannya terhadap horor.

Film ini tidak terlalu bergantung pada jumpscare, melainkan membangun ketegangan lewat konsep “ruang liminal”—yaitu ruang transisi yang terasa kosong, tidak jelas fungsi, dan menciptakan rasa asing.

Koridor panjang tanpa ujung, lampu neon yang konstan, serta ruangan yang berulang menjadi elemen visual utama yang membuat penonton merasa terjebak bersama karakter di dalamnya.

Banyak penonton menyebut pengalaman menonton film ini lebih seperti “merasa tidak nyaman” dibanding sekadar merasa takut.

Tembus Box Office dan Jadi Perbincangan Global

Sumber foto :
https://wdnsfm.com/full-story/?id=149341&category=hollywoo

Kesuksesan Backrooms tidak hanya terlihat dari respons penonton, tetapi juga dari pencapaiannya di box office.

Film ini berhasil mencatat pembukaan yang kuat secara global, memperlihatkan bahwa konsep horor berbasis internet culture memiliki daya tarik yang besar di pasar mainstream.

Selain itu, diskusi mengenai film ini juga ramai di media sosial. Banyak penonton membahas teori cerita, makna ruang liminal, hingga kemungkinan pengembangan universe yang lebih luas di masa depan.

Hal ini menunjukkan bahwa Backrooms bukan hanya film horor, tetapi juga fenomena budaya digital yang berkembang menjadi tontonan arus utama.

Lebih dari Sekadar Film Horor

Yang membuat Backrooms berbeda dari film horor lainnya adalah bagaimana film ini memanfaatkan estetika internet modern sebagai bagian dari ceritanya.

Konsep “liminal space” yang sebelumnya hanya populer di komunitas online kini menjadi elemen utama dalam film ini. Ruang kosong, suasana sunyi, dan ketidakjelasan arah menciptakan pengalaman visual yang unik bagi penonton.

Pendekatan ini membuat Backrooms tidak hanya sekadar menakutkan, tetapi juga memancing rasa penasaran dan interpretasi yang berbeda-beda dari penonton.

  • 0
  • 0
  • 0
  • 0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Mahasiswa, Kritik, dan Kepedulian terhadap Masa Depan Bangsa

Jakarta, Juni 2026 – Pada Jumat, 12 Juni 2026,...

Euforia Piala Dunia 2026 Tetap Membara Meski Tanpa Tim Garuda

Coba perhatikan obrolan di warung kopi, linimasa media sosial,...

ChatGPT vs Gemini vs Claude: Mana AI yang Paling Cocok untuk Kerja?

Dalam dua tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence (AI) berkembang...

Siap Pangkas Kemacetan, Ini Rute dan Progres Pembangunan BRT Bandung Raya

Bandung, Juni 2026 – Kemacetan sudah lama menjadi bagian...

Padel Naik Daun di Indonesia: Ketika Olahraga, Gaya Hidup, dan Kelas Sosial Bertemu

Padel kini menjadi tren olahraga yang melonjak di kalangan masyarakat urban Indonesia. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, olahraga raket ini berkembang menjadi simbol gaya hidup, identitas sosial, dan ruang interaksi bagi kelas menengah. Dengan karakteristik yang mudah dipelajari dan format permainan ganda, padel menawarkan pengalaman sosial unik yang kini turut diramaikan oleh berbagai brand lokal.

Topik

Mahasiswa, Kritik, dan Kepedulian terhadap Masa Depan Bangsa

Jakarta, Juni 2026 – Pada Jumat, 12 Juni 2026,...

Euforia Piala Dunia 2026 Tetap Membara Meski Tanpa Tim Garuda

Coba perhatikan obrolan di warung kopi, linimasa media sosial,...

ChatGPT vs Gemini vs Claude: Mana AI yang Paling Cocok untuk Kerja?

Dalam dua tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence (AI) berkembang...

Siap Pangkas Kemacetan, Ini Rute dan Progres Pembangunan BRT Bandung Raya

Bandung, Juni 2026 – Kemacetan sudah lama menjadi bagian...

Padel Naik Daun di Indonesia: Ketika Olahraga, Gaya Hidup, dan Kelas Sosial Bertemu

Padel kini menjadi tren olahraga yang melonjak di kalangan masyarakat urban Indonesia. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, olahraga raket ini berkembang menjadi simbol gaya hidup, identitas sosial, dan ruang interaksi bagi kelas menengah. Dengan karakteristik yang mudah dipelajari dan format permainan ganda, padel menawarkan pengalaman sosial unik yang kini turut diramaikan oleh berbagai brand lokal.

Lebih dari Sekadar Olahraga: Tren Lari Half Marathon dan Strava di Kalangan Generasi Muda

Lari half marathon kini menjadi tren populer di kalangan generasi muda Indonesia karena tantangannya yang realistis bagi pelari rekreasional. Didukung oleh aplikasi Strava sebagai wadah dokumentasi dan komunitas yang solid, olahraga ini bertransformasi menjadi gaya hidup modern. Event besar seperti BTN Jakarta International Marathon mencerminkan pertumbuhan pesat ekosistem lari yang mengutamakan konsistensi serta pencapaian pribadi.

Lebih dari Sekadar Drama Sekolah, “Teach You a Lesson” Menyoroti Tekanan Sosial yang Nyata

Teach You a Lesson di Netflix menghadirkan perspektif mendalam tentang tekanan sosial di lingkungan sekolah. Melalui kisah tim khusus yang menangani konflik remaja, serial ini mengeksplorasi pencarian identitas, dampak media sosial, dan kerinduan akan keadilan. Narasi yang manusiawi menjadikannya refleksi penting tentang dinamika hubungan antarmanusia yang sangat relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang generasi.

Jakarta Sedang Demam Konser, Deretan Musisi dan Festival Musik Ramaikan Juni 2026

Jakarta dipenuhi kemeriahan musik sepanjang Juni 2026 melalui berbagai konser dan festival besar. Agenda menarik meliputi konser teatrikal Raisa, perayaan 25 tahun Yovie & Nuno, hingga kembalinya Jakarta Fair dengan pertunjukan harian. Kemeriahan berlanjut dengan Allo Bank Festival dan Lokal Fest, membuktikan antusiasme tinggi masyarakat terhadap musisi lokal dan industri hiburan tanah air yang terus berkembang.

Artikel Terkait

Kategori Lainnya

spot_img