Transformasi digital rumah sakit, AI kesehatan, hingga integrasi layanan nasional menjadi fokus utama Foryankes 2026 dalam mendorong implementasi Smart Hospital di Indonesia. Meski perkembangan mulai terlihat, tantangan fragmentasi sistem, kesenjangan SDM, dan integrasi layanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Denpasar, Bali – Bayangkan seorang pasien rujukan yang harus mengulang pemeriksaan karena rekam medis dari fasilitas kesehatan sebelumnya tidak dapat diakses akibat perbedaan sistem. Kondisi ini masih menjadi gambaran nyata layanan kesehatan di Indonesia dan menjadi salah satu sorotan utama dalam Forum Kesehatan (Foryankes) 2026 di Bali.
Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam transformasi layanan kesehatan nasional. Di tengah percepatan digitalisasi, konsep Smart Hospital mulai dipandang sebagai arah masa depan rumah sakit Indonesia. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai hambatan di lapangan.
Satu Forum, Banyak Pemangku Kepentingan
Foryankes 2026 mempertemukan regulator, organisasi profesi, akademisi, rumah sakit, hingga pelaku industri teknologi kesehatan untuk membahas transformasi layanan kesehatan nasional.
Hadir dalam forum tersebut Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Kepala Pusdatin Kementerian Kesehatan RI Eko Sulistijo, Deputi Bidang Akreditasi BSN Donny Purnomo, organisasi profesi, akademisi, hingga direktur rumah sakit dari berbagai wilayah di Bali.
Melalui seminar dan Focus Group Discussion (FGD), forum membahas empat isu strategis: pengembangan rumah sakit berbasis digital, pembiayaan Smart Hospital, implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI), serta integrasi sistem informasi kesehatan nasional.

Sistem Fisik Maya: Otak Digital Rumah Sakit
Dalam forum tersebut, Sistem Fisik Maya (SFM) atau cyber physical system disebut sebagai salah satu fondasi utama Smart Hospital.
Ekosistem Smart Hospital dibangun melalui empat komponen utama: Sistem Fisik Nyata (sarana dan alat kesehatan), Sistem Fisik Maya (data, jaringan, AI, dan otomasi), Sistem Manajemen Organisasi, serta SDM rumah sakit dan teknologi informasi.
“Transformasi digital kesehatan bukan hanya soal menginstal aplikasi. Ini soal membangun ekosistem layanan yang saling terhubung, aman, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara real-time,” ujar Eko Sulistijo.
Smart Hospital Bukan Sekadar Digitalisasi
Konsep Smart Hospital tidak hanya berbicara soal penggunaan teknologi, tetapi integrasi seluruh proses layanan rumah sakit dalam satu ekosistem digital — mulai dari pendaftaran pasien, rekam medis elektronik, laboratorium, radiologi, farmasi, hingga dashboard manajemen berbasis data real-time.
Pemerintah juga menargetkan penguatan layanan kesehatan hingga 2045 melalui pengembangan sekitar 4.500 rumah sakit, 90 ribu tempat tidur, 500 rumah sakit level nasional, dan 100 rumah sakit level internasional.
Output Smart Hospital Harus Berdampak Nyata
Presiden PTPI, Prof. Eko Supriyanto, menegaskan bahwa Smart Hospital harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas layanan dan keberlanjutan rumah sakit.
Menurutnya, keberhasilan Smart Hospital dapat diukur dari efisiensi operasional, peningkatan kepuasan pasien, percepatan waktu layanan, peningkatan produktivitas SDM, hingga penguatan inovasi layanan kesehatan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar digitalisasi, tetapi membangun sistem pelayanan kesehatan yang modern, berkualitas, dan terjangkau,” ujarnya.
Tantangan Digitalisasi Rumah Sakit Masih Besar
Meski transformasi digital terus didorong melalui SATUSEHAT dan Rekam Medis Elektronik (RME), banyak rumah sakit masih menggunakan sistem berbeda tanpa standar arsitektur terintegrasi.
Permasalahan lain meliputi rendahnya integrasi antar sistem, keterbatasan SDM teknologi informasi kesehatan, keamanan data, dan belum optimalnya tata kelola digital rumah sakit.
“Yang kurang bukan idenya. Yang kurang adalah kecepatan dan keberanian untuk mengeksekusinya,” menjadi salah satu sorotan dalam forum.
Data Digital Maturity Rumah Sakit Mulai Membaik
Kepala Pusdatin Kemenkes RI, Eko Sulistijo, menyampaikan bahwa tingkat kematangan digital rumah sakit di Indonesia terus meningkat.
Indeks maturitas digital rumah sakit naik dari sekitar 2,63 pada 2022 menjadi 3,52 pada 2025. Peningkatan ini menunjukkan kesiapan rumah sakit dalam interoperabilitas sistem, keamanan siber, pengelolaan data kesehatan, dan tata kelola teknologi informasi.
Smart Hospital Jadi Kebutuhan Strategis Nasional
Forum juga menyoroti bahwa Smart Hospital bukan lagi sekadar tren teknologi, tetapi kebutuhan strategis nasional untuk meningkatkan kualitas layanan, membangun kepercayaan publik, dan mengurangi masyarakat berobat ke luar negeri.
Implementasi Smart Hospital diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, aman, efisien, dan berpusat pada pasien.
Kolaborasi Jadi Kunci
Foryankes 2026 menegaskan bahwa transformasi digital kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, rumah sakit, akademisi, organisasi profesi, dan industri teknologi kesehatan.
Karena pada akhirnya, sistem kesehatan yang terfragmentasi bukan hanya masalah teknis, tetapi juga menyangkut pemerataan dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
Artikel ini dikembangkan berdasarkan presentasi dan diskusi dalam Forum Kesehatan (Foryankes) 2026 yang digelar di Bali. Narasumber yang dikutip langsung: Kepala Pusdatin Kemenkes RI Eko Sulistijo, S.H., M.T.; Prof. Ir. Dr.-Ing. Eko Supriyanto, Presiden PTPI; dan Deputi Bidang Akreditasi BSN Donny Purnomo, SJ.
- 0
- 0
- 0
- 0





